DPMPTSP Jabar Gelar FGD Soal Vokasi

Dinas Penanaman Modal serta Pelayan Terpadu Satu Pintu( DPMPTSP) berkolaborasi dengan Dinas Perindustrian serta Perdagangan Jawa Barat mengupas beberapa kesempatan serta tantangan terpaut investasi, pertumbuhan kawasan industri sampai kesiapan link and match. FGD yang diselenggarakan secara hybrid, Senin( 13/ 4/ 2021) tersebut memperkenalkan beberapa pembicara antara lain Fahmi Sahab[Direktur Eksekutif Himpunan Kawasan Indonesia], Grace Octalian( Direktur Surya Cipta), Kadin Jawa Barat, BKPM serta Departemen Perindustrian.

Sosialiasi pengembangan kawasan industri serta PP nomor 5 tahun 2021 ini pula memperkenalkan para partisipan yang berasal dari para pengembang kawasan industri mobil listrik , organisasi fitur wilayah( OPD) kabupaten/ kota di Jawa Barat sampai pelakon usaha UMKM. Ulasan lumayan menarik tiba di tahap 1 yang mangulas terpaut link and match kebutuhan tenaga kerja buat industri serta UMKM. Wakil Pimpinan Universal Kadin Jabar Bidang Teknologi serta Informasi Kemampuan Usaha Hadi S Cokrodimejo berkata road map pembangunan industri di Indonesia masih belum jelas. Baginya ketidakjelasan ini membuat investor asing gampang masuk ke Indonesia, tetapi tidak disiapi oleh keahlian lokal buat penuhi kebutuhan investor. Paling utama terpaut penyediaan tenaga kerja yang mumpuni.

Baginya dengan peta jalur yang jelas hingga apapun investasi yang masuk ke Indonesia, dapat mencapai tenaga kerja. Ia mencontohkan soal mobil listrik yang mulai booming. Hadi menarangkan bila Tesla masuk ke Indonesia hingga dunia pembelajaran wajib siap memasok lulusan yang kurikulumnya cocok kebutuhan. Di sisi lain regulasi yang disiapkan Pemerintah pula wajib sigap merespon pertumbuhan ini.“ Tetapi kita kalah dengan India, Tesla itu rajanya mobil listrik, Tesla masuk seluruh masuk, saat ini Hyundai ingin masuk, sayang kita belum terdapat road map yang jelas soal industri[mobil listrik],” katanya. Hadi memperhitungkan berarti pemerintah menghasilkan ekosistem industri yang baik paling utama sediakan sekolah yang cocok dengan kebutuhan industri.

Baca Juga : Bagaimana Menjaga Rumah Anda Aman Dari Rayap – Tip Pencegahan Rayap

Sayangnya urusan vokasi ini baginya masih tersebar secara sporadis di beberapa departemen tidak cuma jadi domain di Departemen Pembelajaran. Baginya bila pemerintah tidak fokus, urusan vokasi ini dapat diserahkan pada para pelakon industri lokal ataupun asosiasi semacam Kadin.“ Di Jerman perguruan vokasi itu Kadinnya,” ucapnya. Vokasi di Jerman baginya mendudukan 70% waktu para pelajar lebih banyak terletak di industri. Baginya dikala ini satu industri dapat dikeroyok banyak Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) dari bermacam wilayah.“ Kurikulum di disdik serta poltek wajib dibenahi, jika tidak cocok kebutuhan industri tidak hendak match,” ucapnya. Ia mencontohkan industri tekstil di Cianjur kekurangan tenaga kerja yang skillnya cocok mengingat Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) di situ lebih banyak berbasis pertanian. Ia pula mencontohkan banyaknya Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) yang membuka jurusan pc tetapi kala terdapat industri spesial masuk ke daerah tersebut lulusan- lulusan Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) tersebut tidak terserap.“ Nganggur,” katanya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *